Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Pernah Membanding-Bandingkan Murid Dengan Yang Lainnya. Ojo Dibanding-Dibandingke

 

Jangan Pernah Membanding-Bandingkan Murid. Ojo Dibanding-Dibandingke

    Dunia guru tentu erat kaitannya dengan dunia anak. setiap harinya guru akan bertemu dengan murid-muridnya. Terlebih jika guru tersebut mengajar di jenjang sekolah dasar, sudah tentu intensitas pertemuan dengan anak menjadi semakin sering, berbeda dengan jenjang pendidikan di atasnya seperti SMP atau SMA yang hanya 3 tahun. Mengingat hal tersebut, seorang guru tentu akan mengenali secara mendalam masing-masing muridnya mulai dari sifat, karakter, kemampuan akademisnya, kekurangan dan kelebihannya.

    Guru kadang masih memadang sebelah mata ketika terdapat murid di kelasnya yang memiliki kemampuan akademis yang kurang mumpuni. Indikator tersebut bisa saja terlihat dari keaktifan anak di dalam kelas, hasil ulangan atau nilai rapot. Sikap skeptis seorang guru terhadap anak yang memiliki nilai akademis yang rendah merupakan sesuatu yang keliru. Jika guru bersikap seperti maka, guru harus segera mengubah pandangan tersebut. Seorang guru seharusnya dapat memberikan perlakuan yang sama kepada semua muridnya, tidak hanya mengunggulkan murid yang memiliki prestasi akademik yang baik.

    Jika guru memahami ilmu tentang kecerdasan majemuk, maka guru harusnya sudah mengerti bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Guru tidak boleh menyamaratakan kemampuan setiap anak, jika hal tersebut dilakukan berarti guru telah melakukan tindakan yang keliru. Sebagai guru yang baik, harusnya kita mampu mengenali setiap kemampuan dan bakat setiap anak. Setelah guru mendeteksi bakat anak, maka guru dapat mengarahkan kemampuan anak tersebut ke program yang dapat mengembangkan kemampuannya agar dapat berkembang lebih maksimal, misalnya sekolah dapat mengadakan sejumlah ekstrakurikuler yang mampu mengakomodir kemampuan anak.

    Untuk mengakomodir setiap kemampuan anak memang tidaklah mudah. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus saling bersinergi agar kemampuan anaknya dapat lebih terarah dan kedepannya melalui kemampuannya itu anak dapat berprestasi. Setiap anak terlahir dengan bakatnya masing-masing, tidak melulu tentang hal akademis saja. Ada anak yang unggul di bidang olahraga, musik, visual spasial, logika matematika atau bahasa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk tidak mudah menyepelekan muridnya khususnya anak yang nilai akademis yang rendah, karena dibalik kekurangan anak di bidang akademis, ada bakat-bakat lain anak yang belum tereksplor secara maksimal.

    Melihat kemampuan anak yang berbeda-beda, maka sudah seharusnya guru tidak perlu membanding-bandingkan antara kemampuan masing-masing anak. Setiap anak lahir dengan bakat bawaan yang berbeda-beda, maka biarkan mereka tumbuh dengan kemampuannya. Sebagai guru, kita tidak lagi memandang kemampuan anak hanya dari nilai-nilai akademisnya saja. Kebanyakan guru biasanya akan memberikan perhatian lebih, khususnya bagi anak yang memiliki nilai akademis yang tinggi dan menganggap remeh bagi anak yang memiliki nilai yang rendah.

    Pandangan kuno seperti ini harus segera di hilangkan, perlakuan berbeda kepada murid tentunya akan menimbulkan rasa kecemburuan. Anak dalam hatinya akan bertanya-tanya, mengapa dirinya diperlakukan berbeda oleh gurunya. Padahal setiap anak berhak mendapatkan perlakuan yang sama baik dalam hal pembelajaran atau pengembangan bakat yang dimiliki. Guru harus memandang keberagaman kemampuan dan bakat yang ada di kelasnya menjadi sesuatu yang positif. Guru juga harus menyadari bahwa tidak semua anak didiknya itu, ahli pada bidang yang sama, tetapi mereka tentu punya ketertarikan yang berbeda-beda.

    Tugas guru tinggal mengarahkan bakat mereka dengan memberikan wadah agar segala bakat yang anak miliki dapat tersalurkan. Misalkan, sekolah dapat membuat kegiatan ekstrakurikuler atau mendirikan suatu komunitas yang mampu menampung minat dan talenta murid-murid. Agar bakat tersebut dapat tersalurkan, guru juga dapat sesekali mengajak anak untuk ikut berkompetisi pada suatu lomba yang sesuai dengan minatnya.

    Saya jadi teringat dengan salah satu lirik lagu ciptaan Abah Lala yang berjudul “Ojo di Bandingke”. Yok, Kok ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke yo mesti kalah”. Lirik tersebut sangat sesuai dengan artikel di atas, yaitu jika kita membandingkan kemampuan anak yang sudah jelas berbeda, maka salah satunya akan kalah (tidak menguasai).

Setiono, S.Pd., Gr.
Setiono, S.Pd., Gr. Seorang guru MI yang menyukai dunia blogging dan teknologi.

Post a Comment for "Jangan Pernah Membanding-Bandingkan Murid Dengan Yang Lainnya. Ojo Dibanding-Dibandingke"